Alhamdulillah, tinggal 8 hari lagi menjelang hari H. Ada rasa deg-degan bercampur haru, takut, dan bahagia. Ada rasa di mana aku benar-benar harus siap untuk menjadi istri yang baik karena ketika sebuah pernikahan sudah dilangsungkan, maka kata-kata suami harus dipatuhi sepanjang tidak melanggar aturan agama.
Hal-hal yang sifatnya psikologis inilah yang harus disiapkan sebenarnya oleh seorang calon pengantin perempuan. Karena, sebelum menikah, bakti pertama seorang anak perempuan adalah kepada ayah dan ibunya. Tetapi, ketika sudah menikah, bakti pertamanya adalah pada suaminya, baru pada orang tuanya. Ya, begitulah…. hal-hal yang harus diingat oleh seorang calon pengantin perempuan.
Tapi, jangan menyerah dulu sih menurutku. Karena ini adalah sebuah cara untuk menuju syurga Allah. Dan sebenarnya, aku sedang mempersiapkan diriku lahir batin untuk memberikan bakti terbaikku kepada kedua orang tuaku, terutama menjelang detik-detik pernikahanku.
Aku jadi teringat sebuah kisah salah seorang temenku yang bekerja sebagai auditor di area Kuningan. Dia baru menikah tahun lalu. Dia lantas bercerita mengenai penyesalan dan dosa yang telah dibuatnya ketika pergi keluar rumah tanpa izin suami. Di situ ia merasakan betapa berdosanya ia sebagai seorang istri yang pergi tanpa izin.Di situ ia membayangkan betapa besar dosanya bila suaminya tak memaafkannya dan tak meridhainya. Aku lantas berdecak dalam hati…Ya Allah, moga-moga ini dapat kuambil hikmahnya.
AKu lantas bercermin, kadang aku suka membantah kata-kata orang tuaku. Sesuatu yang aku tangisi dan sesali selama hidup ini hingga sekarang ini. Dan aku akan berusaha untuk tidak melakukannya lagi…Ouchh…Jadi teringat betapa banyak dosaku pada orang tuaku.
Dan saat ini, di saat aku menari-narikan jemariku di atas keyboard ini, aku merasa bahwa my parents is the best. I’ll do my best to make them happy. Aku bertekad untuk menjaga sikapku pada kedua orang tuaku. Dan aku pun berikrar, untuk menjadi istri yang baik untuk Mas Ferry. Hopefully. Amin….
Dan di tengah bergejolaknya hati ini menahan rasa yang bercampur aduk, dan di atas segalanya, aku menyerahkan kelancaran prosesi akad nikah dan resepsiku hanya pada Allah semata. Dengan waktu yang hanya 2 bulan untuk mempersiapkan pernikahanku yang H-2 bulan dipindahkan tempatnya ke Pati, aku hanya bisa berdoa semoga segalanya baik-baik saja dan lancar-lancar saja.
Akhirul kalam, doakan kami ya…Amin