Setelah menunggu lama, akhirnya, pertemuan secara langsung antara keluarga Widya dan Mas Ferry berlangsung juga. Tepatnya, 23 Januari 2008 kemarin, menjadi tanggal “keputusan resmi” disetujuinya akad nikah dan resepsi kami di Pati, Jawa Tengah.
Maklum, sebelumnya, keputusan ini memang sudah disepakati, namun belum diadakan pertemuan langsung kedua keluarga. Alhamdulillah, lega rasanya.
Dan sekarang, kurang lebih 1 bulan lebih dikiiiit (lebih seminggu kaya’nya) menjelang hari H. deg-deg-an… Dan yang ga kalah pentingnya yaitu kehadiran Syndrom Pra nikah. Sumpah, ni sindrom bikin takut ga menentu. Takut ga bisa jadi pasangan yang baik lah, takut ini lah, takut itu lah…. Hal-hal seperti ini sebenarnya hadir dengan sendirinya.
Pastinya, bagi Widya sendiri, sindrom ini cukup mengganggu. Bawaannya lemes, pengen marah-marah, sensitif, dan kadang pengen nangis mulu. Hal yang pertama kali terbayang adalah sudahkah aku menyempurnakan baktiku ke orang tuaku sebelum aku menikah? Wah, ini nih yang bikin Widya nangis dan terbayang akan dosa yang sudah diperbuat. Belum lagi ditambah dengan pertanyaan di benak, such as: Mampu ga aku menjadi istri yang baik untuk Mas Ferry? Mampukah aku menjadi istri yang shalihah dengan tulus ikhlas kepada suami? Mampukah aku menjadi istri yang akan selalu berada di samping suami dalam suka maupun duka?
Semua pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk dalam benakku. Seakan datang dan menghantuiku. Padahal, tidak ada satu pun tuntutan untuk melakukan dan menunaikan hal tersebut dengan perfect dari awal. Sungguh. Akhirnya, setelah berdiskusi dengan beberapa temanku, Alhamdulillah udah sedikit tenang. Kuncinya, positive thinking. Padahal mereka semua yang memberi saran kepadaku mostly belum menikah…Hehehehee.
Tapi, di sinilah teruji apa yang namanya cinta yang ikhlas. Kalau kata Mas Ferry, ya kembalikan lagi ke niat kita menikah. Kalau semuanya dijalani dengan ikhlas karena Allah, insyaallah bisa diatasi.
FYI, Mas Ferry pun merasakan ketakutan-ketakutatn yang sama. Tapi anyway, inilah mungkin letak ujiannya ya. Jadi, bagi yang akan menikah, termasuk diriku insyaallah….siapkanlah mental dan fisik… Karena bahtera rumah tangga itu tak semudah yang dibayangkan.
iya ne aq jg sptna lg mrasknya! smakin mndkati mw nkah thu ko kraguanq sma clonq mkin tinggi! truz jg mantn co clonq pd dtg gtu! btw apkh tpat klo qta mnunda acra prnikhannya?
[...] saranin baca ini .. ini .. ini .. [...]
Mba Widya…
apa yg Mba tulis diatas, sama persis sama apa yg saya alamin sekarang..
Makin deket, makin kacau balau Mba..
hmmm rasanya campur aduk Mba diotakku…
adakah cara lain selain Positif thinking Mba ????
dan sekarang apa yg Mba Widya rasakan ???